Pemahaman dan kecintaan terhadap kelestarian seni budaya daerah harus terus ditanamkan di masyarakat, terutama bagi kalangan remaja yang notabene sebagai cikal bakal generasi penerus bangsa. Demikian ditegaskan Kepala Badan Pengelola Kawasan Perbatasan, Pedalaman dan Daerah Tertinggal (BPKP2DT) Kaltim, Adri Patton melalui Kabid Pemberdayaan Lembaga Sosial dan Budaya, Ibrahim Dungau.
Berbicara di kantornya di Samarinda, baru-baru ini, Ibrahim menyatakan, BPKP2DT Kaltim sendiri rencananya menggelar sosialisasi kebudayaan di kecamatan Long Pahangay, Kabupaten Kutai Barat (Kubar) pada 21 September 2011. Sosialisasi ini sebagai wujud kepedulian pemerintah pusat dan Pemprov Kaltim untuk melakukan pembinaan dan pemahaman tentang program kebudayaan dan pariwisata.
“Kegiatan ini untuk menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat terhadap seni budaya di daerahnya yang semakin hari terlihat semakin memudar. Paling tidak melalui kegiatan ini mereka dapat memahami akan pentingnya akan melestarikan kekhasanahan seni budaya yang dimiliki,” ujarnya.
Sosialisasi ini merupakan kali kedua di kabupatenyang termasuk kawasan perbatasan setelah sebelumnya dilaksanakan di Desa Long Nawang, Kecamatan Kayan Hulu, Malinau. Sekarang, tinggal di daerah kabupaten Nunukan saja yang belum dilaksanakan sosialisasi ini.
Ibrahim Dungau menyebut, corak budaya yang mendominasi Kaltim bertopang pada tiga tiang utama. Pertama, budaya suku asli dayak yang tinggal di pedalaman dan perbatasan, kemudian budaya nelayan di daerah pesisir pantai, dan budaya kerajaan yang masih eksis sampai sekarang.
Menurut dia, kegiatan ini sebagai upaya mewujudkan Kaltim sebagai daerah tujuan wisata berbasis alam dan budaya. Sasarannya mengarah kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berkesinambungan, berakhlak mulia dan berdaya saing, sehingga diharapkan mampu secara proaktif menjawab tantangan zaman di wilayah perbatasan Kaltim dengan Malaysia.
Sosialisasi kebudayaan ini juga, urai Ibrahim, bertujuan mengembangkan prakarsa dan peran aktif masyarakat perbatasan dalam pembangunan Kaltim, terutama memperkenalkan budaya dan kepariwisatan ke masyarakat luas. Itu artinya, kegiatan ini juga bisa diartikan sebagai salah satu pembinaan untuk memberi pemahaman tentang pelestarian kebudayaan dan pariwisata di daerah Malinau, Nunukan dan Kubar.
“Nah, jika ingin mewujudkannya, maka perlu dilakukan upaya meningkatkan dan memperluas pemahaman terhadap potensi budaya dan wisata. Tujuan akhirnya adalah menciptakan tempat kunjungan wisata yang sudah dibaur dengan budaya pedalaman, budaya pantai, keraton, wisata sejarah dan fasilitas penunjang kepariwisataan yang dimiliki lainnya,” terangnya.
Menurut Ibrahim, dengan pemahaman dan kecintaan terhadap seni budaya yang dimiliki, diharapkan dapat menjadi filter masuknya budaya asing yang secara tidak sadar terus menggeser kebudayaan asli daerah. Jika tidak, dikhawatirkan seni buidaya khas daerah lambat laun akan punah, terlebih seni budaya daerah disebut juga sebagai alat pemersatu yang paling tepat untuk perekat persahabatan, persatuan dan kesatuan .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar