Judul : The Coke
Machine, Kebenaran Kotor di Balik Minuman Ringan Favorit Dunia
Penulis : Michael
Blanding
Penerbit : Elex Media
Komputindo
Terbit : 2011
Halaman : 420 Halaman
Harga : Rp. 99.800
Contoh Resensi Buku ini adalah sebagai berikut :
Korporasi raksasa yang mendunia selalu memiliki dua
wajah yang bertolak belakang Di satu sisi ia dapat tampil cantik, namun di sisi
lain ia memiliki wajah buruk yang selalu ingin dirahasiakan.
Begitu juga dengan perusahaan minuman ringan bersoda The Coca Cola
Company. Perusahaan yang telah mendunia ini dilaporkan memiliki sejumlah
persoalan yang selama ini tidak diketahui oleh publik.
Buku yang ditulis oleh Michael Blanding ini menjelaskan bagaimana
kemajuan perusahaan yang berdiri pada tahun 1892 itu bukan semata-mata karena
kehebatan produknya, namun karena iklan.
Iklan Coca Cola yang begitu hebat telah membentuk berbagai citra
tentang Coca Cola. Tak ayal lagi, Coca Cola tidak hanya sekadar brand yang
mendunia, namun juga sebuah kultur.
Sebagai sebuah kultur Coca Cola menjadi bagian dari keseharian,
terutama orang-orang Amerika. Konsumsi Coca Cola pun menjadi sebuah simbol
ataupun identitas masyarakat Amerika.
Hasilnya, lingkar pinggang orang Amerika kian membesar. Penelitian
menunjukkan bahwa minuman soda yang ditambahkan pada porsi setiap kali makan,
akan menambah kemungkinan kegemukan sekitar 60 persen (hal. 90).
Di samping itu, Coca Cola pun telah masuk dalam dalam ritus-ritus
keagamaan dan praktik budaya. Masyarakat yang hidup di perbukitan Chiapas
Highlands, Meksiko, misalnya, kini telah melibatkan “si kaleng merah” dalam ritual-ritual keagamaan, ia menjadi bagian dari
pemujaan.
Hal ini menunjukkan bagaimana Coca Cola telah mengubah kode-kode dalam
praktik ritual. Ia telah menjungkirbalikkan nilai-nilai otentik budaya lokal.
Jika memang Coca Cola concern dengan keberlangsungan budaya lokal, seharusnya
ia dapat mengendalikan ini.
Persoalan yang harus dihadapi Coca Cola adalah persoalan pelanggaran
hak-hak asasi buruh. Ini terjadi di Columbia. Di negara ini sejumlah kasus yang
berakhir pada kematian buruh pabrik Coca Cola, beberapa kali terjadi.
Tuntutan buruh untuk memperoleh hak-haknya ternyata tidak selalu
mendapat respon positif. Bahkan Dalam buku ini disampaiakan justru perusahaan
yang berusaha untuk menghancurkan serikat pekerja yang menuntut hak-haknya.
Malah, dilukiskan dalam buku ini adanya kemungkinan disewanya tentara
bayaran untuk menghentikan gerakan serikat pekerja. Di negeri yang sama juga
dilakukan montaje judicial atau jebakan pengadilan terhadap para aktivis
serikat pekerja.
Masalah lain yang terus menyudutkan Coca Cola adalah pencemaran
lingkungan. Dari India dilaporkan bahwa perusahaan minuman bersoda itu telah
mencemari lingkungan. Mereka membuang limbah pabrik dengan seenaknya.
Limbah pabrik itu telah memperburuk kondisi lingkungan. Bahkan
hewan-hewan peliharaan mati karena meminum air dari sungai yang tercemar.
Keinginan untuk mengubah keadaan ini juga tidak kunjung muncul.
Catatan lain tentang buku ini ialah, adanya ketidakberimbangan dalam
menampilkan fakta mengenai Coca Cola. Hasilnya, buku ini terkesan sebagai black
campaign terhadap perusahaan asal Amerika Serikat itu

